[Valid RSS]

Kabarikn.com,Jawa Barat- Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Barat melakukan pertemuan secara virtual dengan Gubernur Jabar, Ridwal Kamil. Secara khusus, Ridwal Kamil meminta media menjadi “pemadam” dengan membangun ruang dialog untuk mereduksi “pertengkaran” masyarakat.

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil menjabarkan, jika “pertengkaran” masyarakat pasca Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 masih sering terlihat hingga kini di media sosial. Hal itu berdasarkan dari hasil studi yang menobatkan pengguna media sosial Indonesia sebagai pengguna dengan kalimat-kalimat terkasar Se-ASEAN.

Bagi Ridwan Kamil, hal itu terjadi karena ada sebuah ketimpangan di era informasi ini. Ketimpangan itu ada pada pengguna ponsel pintar (smart phone) yang kebanyaan mentalnya belum siap.

“Kita bangsa paling julid Se-Asean. Kegelisahan saya setelah Pilpres, bangsa ini mudah bertengkar. Saya berharap AMSI bisa mereduksi dosis bertengkar dan memperbanyak diskusi,” katanya dalam pertemuan dengan para pimpinan media yang tergabung dalam organisasi AMSI, Kamis (29/7/2021).

Ridwan Kamil melanjutkan, saat ini setiap orang bisa memproduksi berita, namun berita-berita tersebut berbeda dengan berita yang diproduksi oleh media arus utama. Kemudian yang terjadi, banyak masyarakat yang bingung dalam membedakan berita yang benar dengan berita hoaks, karena ada begitu banyak informasi.

“Dulu mau nonton ada jadwalnya. Problem sekarang adalah memilah media karena semua orang bisa memproduksi berita,” ujarnya.

Dia menyarankan agar media-media online arus utama, melengkapi media sosialnya dengan centrang biru. Sebab, centrang bisa menjadi standar media tersebut memproduksi berita-berita yang benar atau sehat.

Ketua Umum AMSI pusat Wenseslaus Manggut mengatakan, tugas AMSI di antaranya untuk membangun medis online yang sehat, tidak hanya perusahaannya, tetapi juga kontennya.

“Media online begitu banyak. AMSI berdiri agar perusahaan sehat, kontennya juga sehat,” jelas Wen, yang mengaku sangat mengapresiasi pertemuan dengan Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan menyambut baik ajakan untuk membangun ruang dialog agar para pembaca mendapatkan perspektif yang utuh.**

KabarIkn.com,Balikpapan – Pembalap muda Indonesia, Mario Suryo Aji kembali menghadirkan perjuangan yang gigih pada ajang balap FIM CEV Moto3™ Junior World Championship di Circuit MotorLand Aragon, Spanyol (25/7). Sepanjang balapan berlangsung, talenta serta semangat Mario yang bergelora mampu bersaing dengan para pebalap lainnya pada setiap lap yang dilalui. 

Perjungan keras dilakukan pebalap binaan Astra Honda Racing Team (AHRT) saat sesi kualifikasi harus dilalui dengan cuaca panas serta angin kencang (23/7). Padatnya lintasan dengan pebalap yang melaju pelan menjadi tantangan pada sesi kualifikasi pertama, Mario hanya mampu berhasil menempati posisi kedua puluh dengan catatan waktu tercepat 1:59.524. Kerja keras yang tidak sia-sia, berhasil membawa pebalap binaan Indonesia asal Magetan, Jawa Timur ini memperbaiki posisi terbaik dengan catatan waktu 1:58.931. Hasil kombinasi kedua sesi kualifikasi membuat Mario mengawali balapan dari posisi 11.

Pada Minggu (25/7), Mario memulai balapan yang berlangsung di sirkuit dengan panjang 5.1km dengan mengarungi 15 putaran.  Pebalap muda ini langsung  merangsek masuk hingga posisi keenam di dua putaran awal. Pada lap ketiga, Mario harus menjalani Long Lap Pinalty yang mengakibatkan turun hingga posisi ke-11 dan berada di rombongan kedua. Tidak putus asa, pada lap ke-8 Mario berhasil menyusul rombongan pertama dan menempati posisi kesembilan. Namun disayangkan Mario terjatuh pada sisa lap terakhir dan tidak dapat melanjutkan perjuangan akibat insiden dialaminya.

“Saya melakukan start terbaik pada musim ini dan naik beberapa posisi di tikungan-tikungan awal. Saya pun harus menjalani long lap penalty karena melakukan kesalahan saat sesi latihan sehingga membuat saya tertinggal dari grup terdepan. Dalam beberapa lap, saya berusaha untuk dapat bergabung dengan para pebalap terdepan. Pada lap terakhir, saya melakukan kesalahan dengan mengerem terlalu dalam yang membuat daya cengkeraman ban hilang, lalu terjatuh. Saya dan tim akan mencoba memperbaiki kesalahan-kesalanan seri ini pada putaran berikutnya,” ujar Mario.

Memantau perjuangan Mario pada setiap seri balapnya, Deputy General Manager Marketing Planning and Analysis PT Astra Honda Motor (AHM) Andy Wijaya terus memberikan semangat bagi pebalap muda Indonesia untuk terus berjuang di ajang balapan kelas dunia.

“Insiden yang dialami Mario pada putaran kali ini menjadi pembelajaran penting untuk menghadapi dan meneruskan perjuangan di 3 seri selanjutnya pada musim balap kali ini. Kami pun konsisten untuk terus mendukung pebalap muda Indonesia agar dapat bersaing di tingkat dunia hingga dapat mengharumkan nama bangsa ditingkat International,” ujar Andy.

Saat ini, Mario menempati posisi ke-11 untuk klasemen sementara ajang FIM CEV Moto3™ Junior World Championship musim 2021. Balapan selanjutnya berlangsung di sirkuit Jerez, Spanyol pada 22 Agustus 2021. 

Kabarikn.com,Jakarta - Jurnalisme berkualitas perlu didukung lingkungan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Tidak dapat dipungkiri disrupsi digital dan pandemi COVID-19 berdampak besar pada model bisnis media. Sehingga perlu bagi media online di tingkat nasional atau lokal yang terus mengembangkan bisnis model yang tepat menyikapi kondisi tersebut.

Karena itu Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) meluncurkan Riset “Lanskap Media Digital di Indonesia: Menyambut Tantangan dan Peluang Digital untuk Media Online Lokal” secara daring (virtual) pada Kamis, 29 Juli 2021. Wahyu Dhyatmika, Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) saat memberikan sambutan mengatakan memahami potret atau lanskap media online Indonesia diperlukan sebagai data awal (baseline) untuk menyusun langkah strategis membangun ekosistem digital yang mendukung pengembangan media online di Indonesia.

“Riset ini adalah riset komprehensif pertama yang memotret kondisi media digital Indonesia dan penting untuk merumuskan program-program peningkatan kapasitas pengelola media digital,” kata Wahyu Dhyatmika di Jakarta, Kamis (29/7) sore kemarin.

Ia menambahkan transisi pengelolaan media konvensional menuju media digital tidak dapat terelakkan lagi. Sementara itu realitas di lapangan menunjukkan banyak problem yang dihadapi dalam pengelolaan media digital mulai dari kapasitas manajemen bisnis, pemahaman jurnalisme sampai eksekusi menghasilkan produk berkualitas.  “Karena itu diperlukan intervensi program yang tepat untuk mengatasi kesenjangan antara gagasan dan realitas. Langkah tersebut diperlukan sekaligus sebagai upaya untuk menyehatkan media digital, perbaikan kualitas jurnalisme dan penguatan civil society. Harapannya dengan media yang sehat percakapan di ruang publik akan lebih sehat, ”  katanya

Sedangkan Dondy Setya, Senior Rule of Law Government Relations Advisor USAID saat memberikan sambutan di acara yang sama mengatakan media memiliki peran penting untuk perbaikan kualitas demokrasi dan akuntabilitas di Indonesia. Hanya saja saat ini media menghadapi kondisi yang cukup berat karena kehadiran media sosial mendominasi pendapatan iklan (revenue), kehadiran influencer individu di platform media sosial, maraknya mis-disinformasi dan rendahnya literasi publik, yang mengancam kepercayaan masyarakat terhadap media.

“Peluncuran riset ini diharapkan dapat memberi wawasan terbaru untuk menjawab pertanyaan eksistensial peran kritikal media beberapa tahun ke depan, khususnya media di daerah. Ini bentuk Dukungan USAID agar media tetap dapat menjalankan peran pentingnya,” ujarnya.

AMSI mendapat dukungan dari Internews dan USAID melalui program USAID MEDIA untuk menyelenggarakan riset ini yang melibatkan 100 media online anggota AMSI baik media online lokal sejumlah 82 persen dan online di Jakarta sejumlah 18 persen,  sebagai responden utama.

Diskusi hasil riset ini juga mengundang Ignatius Haryanto (Periset Utama sekaligus Dosen Universitas Multimedia Nusantara), Citra Dyah Prastuti (Badan Pengawas dan Pertimbangan Organisasi dan Pemimpin Redaksi KBR.id, Jason Lambert (Senior Director-Media Business, Internews) dan Ronny W Sugiadha (Telkomsel) dengan moderator Maria Y. Benyamin (Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia). Kegiatan ini diselenggarakan dalam dua bahasa dan dihadiri 125 orang peserta dari kalangan media, organisasi masyarakat sipil dan lembaga pemerintah, melalui platform Zoom maupun live streaming Youtube Asosiasi Media Siber Indonesia.

Jason Lambert menjelaskan media menghadapi tantangan yang besar saat ini karena kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Tantangan itu diantaranya terkait kemampuan inovasi, COVID-19, dan turunnya tingkat kepercayaan publik. “Tingkat kepercayaan pada media turun pada beberapa tahun ini, karena naiknya dis dan mis-informasi. Masyarakat tidak tahu di mana menemukan berita yang dapat dipercaya. Khususnya berita COVID-19, terjadi blur informasi antara berita yang benar dan dis-informasi yang beredar, ini menjadi tantangan sendiri bagi media untuk mendapatkan kepercayaan publik,” ujarnya.  

Ia menambahkan ekosistem yang kurang mendukung lainnya bagi media, pendapatan iklan digital naik signifikan secara global, tapi dinikmati oleh perusahaan teknologi besar. Jason Lambert mendorong media terus melakukan inovasi.

Sedangkan Ignatius Haryanto mengatakan riset ini menggambarkan sikap optimisme para pelaku media menjalankan bisnis media, hanya saja tidak ditunjang dengan kemampuan memadai untuk menghadapi perubahan bisnis media ke depan. “Banyak yang masih menggunakan modal mandiri yang tidak besar, perangkat analitik yang sederhana, pemasukan yang tidak optimal, dan ketergantungan yang tinggi pada dengan iklan pemerintah, sehingga memunculkan pertanyaan pada independensi media ke depan,” ujarnya.

Tim riset menyusun laporan ini dengan membagi hasil survey berdasarkan responden Jakarta dan luar Jakarta dan analisis komparasi dari dua area tersebut. Ignatius menjelaskan pembagian tersebut dilakukan karena perbedaan kondisi antara media Jakarta dan luar Jakarta. “Terdapat perbedaan situasi yang signifikan antara media di Jakarta dan di luar Jakarta, terdapat disparitas terkait kapasitas dan pemanfaatan teknologi, yang masih cukup tinggi,” ujarnya.  

Temuan riset tersebut diantaranya terkait harapan pada kelangsungan (viability) dan keberlanjutan (sustainability) media di Indonesia, baik pada media di Jakarta dan di luar Jakarta menunjukkan para pengelola media Jakarta dan luar Jakarta masih memiliki harapan.

Pengelola media di Jakarta 88.2% merasa bahwa industri media masih memiliki harapan ke depan, sementara itu 79.7% pengelola media siber di luar Jakarta merasa bahwa industri media masih memiliki harapan, namun media harus melakukan inovasi, dan 19 % yang lain merasa bahwa industri media masih memiliki masa depan yang cerah.

Terkait dengan inovasi yang bisa dikembangkan untuk menjadikan media siber lebih sukses, pengelola media siber di Jakarta mengaku mengembangkan interaktivitas media lewat media sosial (24,1%), kemudian 22,2% responden menggunakan teknologi baru untuk penyebarluasan berita, dan 20,4% responden membangun sistem berlangganan lewat dompet digital seperti GoPay, Ovo, dan DANA.

Sementara itu 28,3% pengelola media siber di luar Jakarta percaya bahwa mengembangkan interaktivitas media lewat media sosial bisa menjadi inovasinya, sementara 23% responden menyatakan bahwa inovasi bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi baru untuk penyebarluasan berita.

Sehubungan dengan jumlah karyawan yang melek teknologi, pengelola media siber di Jakarta (sebanyak 25,0% responden) menyebut persentase karyawan yang punya kemampuan teknologi hanya 50% dari total karyawan. Ada 25,0% responden lainnya yang mengaku persentase karyawan yang punya kemampuan teknologi dalam perusahaan sudah mencapai 100%. Sisanya, (16,7% responden) mengaku baru 40% saja dari total karyawan dalam redaksi yang melek teknologi.

Sedangkan kondisi ini untuk media di luar Jakarta, 20,8% pengelola mengaku bahwa 50% karyawannya melek dengan teknologi, dan hanya 15,1% yang mengaku 80% karyawannya melek teknologi.

Temuan terkait dengan pemodal media, sebanyak 42,1% pengelola media siber di Jakarta mengaku pemodal mereka adalah pengusaha nasional, sementara 26,3% responden mengaku pemodal media siber adalah mandiri. Kemudian 21,1% responden yang memiliki pemodal media siber dari pengusaha lokal. Sisanya ada 10,5% yang mengaku pemodalnya adalah lembaga donor.

Kondisi sebaliknya pada media siber di luar Jakarta masih didominasi modal mandiri (66,2%). Sementara 21,5% mengaku pemodalnya adalah pengusaha lokal, dan 10,8% adalah pengusaha nasional.

Sebanyak 62,5% pengelola media siber di Jakarta mengaku sebagai bagian dari grup media tertentu, kemudian ada 37,5% responden yang mengaku bukan bagian dari grup media tertentu. Sedangkan di media siber luar Jakarta kondisinya 80,3% mengaku bukan bagian dari grup media tertentu. Hanya 18% yang mengaku merupakan bagian dari grup media tertentu. Hasil riset lengkap dapat dilihat pada lampiran di bawah ini. 

Narahubung:

Wahyu Dhyatmika (Sekjen AMSI) +62 818-317-182

Suwarjono (Ketua 1 AMSI) +62 818-758-624

 

Lampiran:

Materi diskusi, hasil riset AMSI dan Newsgain-Internews  https://drive.google.com/drive/folders/16wfcjJ9QmhqJ1PSvVxEnO8letq4_a3SB?usp=sharing

Kabarikn.com,Palembang-Protokol kesehatan (prokes) Covid-19 dilakukan secara ketat terhadap 330 Tentara Amerika (US Army) saat tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sabtu (24/7/2021). 

Kedatangan 330 Tentara Amerika gelombang pertama  ini, untuk mengikuti Latihan Bersama Garuda Shield ke 15 / 2021, dan merupakan latihan terbesar dalam sejarah kerja sama antara TNI AD dengan AD Amerika Serikat. 

Demikian disampaikan Kepala Dinas Penerangan, Brigjen TNI Tatang Subarna, Sabtu (24/7), di Palembang.

Selanjutnya, Brigjen TNI Tatang Subarna mengatakan latihan bersama ini akan digelar dari tanggal 1 sampai dengan 14 Agustus 2021, dan digelar di tiga daerah latihan tempur Baturaja, Amborawang, dan Makalisung.

“Tujuan dari latihan bersama ini adalah untuk meningkatkan kerja sama dan kemampuan prajurit TNI AD dengan AD Amerika Serikat dalam pelaksanaan tugas operasi,” jelas Brigjen TNI Tatang Subarna, saat ikut menjemput  di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

Dalam pelaksanaannya, latihan ini akan melibatkan penyelenggara dan pelaku sebanyak 2.246 personel TNI AD dan 2.282 personel AD Amerika Serikat dengan materi latihan Staff Exercise, Field Training Exercise, Live Fire Exercise, Medical Exercise, dan Aviation.

“Untuk Bandara di Palembang ini, kedatangan US Army akan beturut-turut sampai dengan tanggal 26 nanti, menggunakan lima pesawat. Sedangkan di Amborawang dan Makalisung, hanya pada tanggal 25 besok, masing-masing menggunakan satu pesawat,” ujar Tatang.

Selain prokes yang ketat dari Satgas Covid-19, ketentuan-ketentuan yang berlaku juga diterapkan terhadap para Tentara Amerika tersebut, seperti pemeriksaan dari pihak Bea Cukai dan Imigrasi untuk mewujudkan pelaksanaan latihan aman dan tertib. (Dispenad)

Foto : laskar merah Tameng adat borneo balikpapan

KabarIkn.com,Balikpapan - Buruh bangunan merasa lega, pasalnya Laskar Merah Tameng Adat Borneo atau disebut Laskar Merah berhasil membersihkan lahan miliknya yang bersengketa bertahun tahun. Hingga akhirnya dimenangkan Saparuddin dan Muhammad Sabril yang disebut sebagai buruh bangunan. Kedua buruh bangunan tersebut mengucapkan rasa terima kasih kepada Panglima Besar Laskar Merah Tameng Adat Borneo, Basuki Rahmat, SKM Senin (26.07.2021).

Panglima Besar Laskar Merah Tameng Adat Borneo Basuki Rahmat, SKM telah berhasil melakukan pembelaan merebut kembali tanah warisan keluarga seluas 8.239 M2 yang terletak di Jl. Manunggal RT. 59 Kelurahan Sungai Nangka Kecamatan Balikpapan Selatan (d/h Kelurahan  Gunung Bahagia). Bersamaan dengan itu, Badan Pertanahan Nasional  (BPN) Balikpapan melaksanakan pemeriksaan dan mengukur lahan, atas permohonan Saparuddin sebagai ahli waris dari Sabri Bin Banting Ali sebagai pemilik tanah. Yang dimenangkan gugatan perkaranya  dalam status Putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde).

Nurul Fariati, SH advokasi berkantor pada Sahabat Law Office sebagai Kuasa Hukum dari Saparuddin dan Muhammad Sabril menerangkan. Bahwa pihaknya telah di ajak bekerja sama Oleh Panglima Besar Laskar Merah Tameng Adat Borneo Basuki Rahmat, SKM,  Karena ada gangguan dari Endi Daud yang dengan segala upaya  berusaha merampas perwatasan tersebut.

Walaupun tanpa alat bukti yang kuat, Endi Daud sekitar November 2020 berani menggugat Saparuddin dan Muhammad Sabril dengan sangkaan "Melawan Hukum" di Pengadilan Negeri Balikpapan tercatat daam register No. 227/Pdt.G/2020/PN Balikpapan. Karena itu gugatan Endi daud tidak diperiksa pokok perkaranya dan gugatan dinyatakan ditolak. Karena selain disebabkan ne bis in idem (perkara yang sama tidak boleh diajukan untuk kedua kali), juga Endi Daud dianggap Diskualifikasi in persona (orang yang tidak punya kapasitas menggugat).

Selanjutnya Nurul menjelaskan telah dilakukan eksekusi terhadap objek sengketa 12 Juli 2017 dan telah di catat dalam berita acara eksekusi riil (Penyerahan Objek Sengketa) Nomor : E .22.2014-12/Pdt.G/2008/PN Bpp tentang perintah eksekusi riil. Endi Daud mengirimkan surat aduan 13 Juli 2017 mengenai keberatan atas pelaksanaan eksekusi riil. Namun tidak ditanggapi oleh Mahkamah Agung. Hal tersebut tercatat dalam laporan tentang proses eksekusi putusan perdata No. 12/Pdt.G/2018/PN Bpp. Berkenaan dengan pengaduan atas ketidakpuasan terhadap eksekusi yang telah selesai dilaksanakan Nomor : W18.U2/1934/PDT.01.05/VIII/2017 menyatakan Endi Daud tidak diketahui kapasitasnya dalam suratnya tanggal  13 Juli 2017 yang di tujukan kepada ketua MA mengatas namakan kepentingan pihak pemohon eksekusi.

Sementara itu Panglima Besar Laskar Merah Tameng Adat Borneo yang mempunyai panggilan akrab Bang Ibas, kepada media ini Selasa (28.07.2021) menambahkan. Keterangan mengenai gangguan-gangguan yang dilakukan Endi Daud terhadap ahli waris sangat keterlaluan. Diantaranya adalah pasca eksekusi riil mencabut plang nama Saparuddin yang terpasang di atas tanah sampai beberapa kali (sekitar kurang lebih lima kali) kemudian menegakan plang bertulisan informasi kepemilikan tanah adalah Mustari berdasarkan putusan pengadilan yang yang senyatanya atas nama Sabri Bin Banting Ali, tapi dituliskan dalam baliho adalah Mustari. Sungguh menyesatkan informasi yang luar biasa.

Masih menurut Bang Ibas, pada saat eksekusi riil Juru Sita pengadilan Negeri Balikpapan menyerahkan objek sengketa pada Saparuddin. Konon kabarnya Endi Daud menggunakan salah satu media online yang menayangkan video dirinya sedang berada di lokasi eksekusi riil di informasikan sebagai "Penggugat" yang menang perkara tapi tidak puas pada pelaksanaan eksekusi riil. Selain itu, Endi Daud memagar area tanah dan  menggemboknya. Kini pagar telah dibuka oleh Laskar Merah sehingga  ahli waris berhasil menguasai secara de facto setelah sebelumnya menguasai secara de jure tanah warisannya.

Panglima Laskar Merah yang di kenal sangat santun ini menngungkapkan selama rentang waktu pasca eksekusi riil tahun 2017 sampai sekarang banyak perbuatan Endi Daud yang merugikan, diantaranya pungutan liar  terhadap warga yang berbatasan dengan tanah serta menghibahkan sebagian kecil tanah untuk jalan kampung dengan memungut dana pada warga sekitar.

Terlebih lagi saat sekarang tanah sedang proses konversi dan peralihan yang dimohonkan pada BPN. Dimana Bang Ibas bersama Laskar Merah mengawal proses dari segel sampai ditingkatkan menjadi serrificat hak milik atas nama ahli waris. Setelah dirinya tidak berhasil menggugat Saparuddin dan Muhammad Sabril, Endi Daud bersikap tidak rela atas pemasangan plang bertanda "Tanah Dalam Pengawasan Tameng Adat Borneo" dimana ahli waris setuju dengan hal tersebut. 

"Kemudian Endi Daud menulis surat yang isinya fitnah terhadap Panglima Ibas, dimana suratnya ditembuskan pada banyak pihak. Kemudian Endi Daud mencabut plang tersebut, "ungkap Bang Ibas.

Bang Ibas menyatakan  saat ini pihaknya bersinerji dengan Advokat Nurul Fariati, SH dalam rangka melindungi orang kecil seperti Saparuddin dan Mohammad Sabril demi mendapatkan keadilan guna melindungi aset mereka yang berharga untuk merubah nasib dimasa depan. (ed)

KabarIkn.com,Jakarta - Media merupakan salah satu sektor esensial yang tidak berhenti saat bencana, termasuk saat pandemi COVID-19. Meskipun banyak media telah menerapkan ketentuan bekerja dari rumah sesuai ketentuan pemerintah, sebagian kecil tim masih diperlukan melakukan peliputan untuk memotret dan melaporkan langsung kondisi penanganan pandemi di lapangan. “Untuk memberikan informasi yang utuh bagi publik, pekerja media tetap perlu melakukan observasi dan konfirmasi realitas di lapangan, tidak cukup hanya melalui ruang Zoom atau telepon,” kata Wenseslaus Manggut, Ketua Umum AMSI di Jakarta, Jumat (23/7).

Tak pelak, saat gelombang ketiga pandemi melanda Indonesia, yang saat ini jumlahnya mencapai 3 juta jiwa, dan jumlahnya bertambah cukup signifikan dalam satu bulan terakhir, di antara pasien terpapar itu adalah pekerja media dan keluarganya. Kondisi ini berdampak pada kelangsungan produktivitas media dalam memenuhi hak informasi publik. Ketika pekerja media terpapar atau keluarganya, berarti mereka harus berhenti melakukan tugas lapangan, setidaknya selama satu bulan untuk perawatan dan pemulihan. 

Seperti halnya warga lainnya, para pekerja media tersebut, tidak selalu mudah mendapatkan akses layanan kesehatan saat kondisi puncak pandemi seperti sekarang ini. Karena itu sebagai organisasi yang menaungi 300 lebih media online di Indonesia, AMSI berinisiatif membentuk Tim AMSI Crisis Center COVID-19. Tim ini akan membantu pekerja media dan keluarganya yang terpapar COVID-19, agar mendapatkan akses layanan kesehatan yang memadai dan melewati masa pemulihan dengan baik.

AMSI Crisis Center COVID-19 akan dipimpin Koordinator Utama yaitu Upi Asmaradhana (CEO KGI Network), dengan melibatkan pengurus AMSI pusat dan daerah, serta para ahli di bidangnya masing-masing seperti: dokter, psikolog, agamawan dll. Kalangan dokter yang telah menyatakan kesediaannya yaitu: dr. Tonang Dwi Ardyanto, SpPK, PhD (Direktur RS Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta), dr. Khoirul Hadi, SpKK (Dokter spesialis di Solo dan sekaligus penyintas COVID-19), dr. Adib Khumaidi, SpOT. (Ketua Terpilih PB IDI & Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia), dr. Mahesa Paranadipa Maikel, MH (Ketua Pelaksana Harian Tim Mitigasi IDI & Ketua Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia), dr. Ulul Albab, SpOG. (Sekjen POGI JAYA).

Kalangan psikolog yang menyatakan mendukung tim ini adalah Susatyo Yuwono, S.Psi., M.Si. (Ketua HIMPSI Solo), Tim Psikolog Sadari.id, Elok Farida Husnawati, S.Psi. (HRD PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT). Sedangkan dari kelompok swasta yang bersedia memberikan dukungan adalah Pyridam Farma, dan jaringan Siloam Hospitals Group. “Saat ini Tim Crisis Center terus menjajaki kerja sama dengan pihak-pihak lainnya,” kata Upi Asmaradhana, Koordinator Utama AMSI Crisis Center COVID-19. 

AMSI Crisis Center COVID-19 ini akan berupaya membantu pekerja media sejak pertama terpapar dengan memberikan edukasi penanganan pertama serta berupaya memberikan bantuan yang diperlukan, sesuai ketersediaan bantuan dan jaringan di pusat maupun daerah. “Tujuannya untuk membantu pemulihan dan menekan fatalitas. Saat ini data yang kami terima, di Jawa Timur saja setidaknya 38 pekerja media telah meninggal selama masa pandemi. Banyak lagi yang masih dalam perawatan baru terpapar,” kata Upi Asmaradhana, menambahkan. 

AMSI Crisis Center COVID-19 ini akan diluncurkan pada Selasa (27/7) pekan depan. Tidak hanya memberikan bantuan pada yang terpapar, AMSI Crisis Center COVID-19 juga akan mendata para penyintas COVID-19 yang layak memberikan donor darah konvalesen. Untuk itu AMSI memanggil banyak pihak dari kalangan ahli dan korporasi swasta, di berbagai daerah, yang memiliki kepedulian, berkolaborasi mendukung penanganan dan pemulihan para pekerja media, agar media tetap bisa bekerja memberikan informasi yang dibutuhkan publik.

Karena bagaimanapun keberadaan media yang dapat memberikan berita yang akurat, tergantung pada para pekerjanya. “Dukungan bagi pekerja media ini diperlukan, agar masyarakat mendapatkan informasi perkembangan penanganan pandemi COVID-19 dengan akurat dan pemerintah dapat mengambil langkah penanganan pandemi dengan tepat,” ujar Upi. 

Narahubung:

Upi Asmaradhana, Koordinator Utama AMSI Crisis Center COVID-19 (+62 811-460-791)

Gaib Maruto, Ketua Tim A Pendataan dan Edukasi (+62 857-1526-1947)

Machroni Kusuma, Ketua Tim B Logistik (+62 877-0860-0066)

Rikando Somba, Ketua Tim C Advance Lapangan (+62 811-1043-079)

Hesthi Murthi, Program Manager AMSI (+62 812-9397-4993)

KabarIkn.com,Jakarta - Meningkatnya jumlah pasien akibat mutasi virus SAR-CoV-2, termasuk pada pekerja media dan keluarga, menggerakkan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) membentuk AMSI Crisis Center COVID-19. Peluncuran AMSI Crisis Center dilaksanakan pada Selasa, 27 Juli 2021, bersamaan dengan Diskusi Publik “Edukasi Penanganan COVID-19 bagi Pekerja Media”. 

Sebagai salah satu sektor esensial yang tidak bisa berhenti saat kondisi bencana, termasuk pandemi COVID-19. Upi Asmaradhana, Koordinator Utama AMSI Crisis Center COVID-19 menyampaikan Tim Crisis Center dibentuk sebagai respon dari meningkatnya jumlah pekerja media yang terpapar COVID-19. “Tim ini akan memberikan edukasi (preventif) pada anggota yang terpapar agar cepat pulih, dengan harapan menurunkan angka fatalitas dan ke depan tidak ada lagi anggota yang terpapar. Ini adalah upaya di tengah keterbatasan kondisi saat ini,” kata Upi. 

Ketua Umum AMSI Wenseslaus Manggut menambahkan Tim Crisis Center ini berupaya membantu anggota. “Kami ini membantu pekerja media yang bingung saat awal terpapar, baik dari aspek medis, psikologi dan lain-lain sehingga membutuhkan kolaborasi dengan para ahli,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Dewan Pers Mohammad NUH menyampaikan saat membuka sekaligus meluncurkan AMSI Crisis Center COVID-19 menyampaikan, “Pembentukan AMSI Crisis Center ini adalah langkah real. Dewan Pers menyampaikan penghargaan atas upaya untuk meringankan beban (pekerja media) ini,” ujarnya. 

Ia menyampaikan saat kondisi turbulensi COVID-19 ini diperlukan upaya-upaya bersama yang tepat sesuai kasus yang dihadapi. “Diperlukan inovasi atau terobosan baru untuk menyelesaikan masalah baru (COVID-19), yang saat ini masih menjadi misteri ini. Perlu pendekatan multisektor, dilakukan bersama-sama didasari empati. AMSI Crisis Center-19 ini adalah bentuk empati,” katanya menambahkan. 

Panelis yang diskusi yang hadir dalam diskusi ini adalah dr. Adib Khumaidi, SpOT (Ketua Terpilih PB IDI & Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia), Sani Budiantini Hermawan, S.Psi. (Psikolog Sadari.id), dan dr. Widjanarko Brotosaputro (Direktur Pyridam Farma), dan Dr. dr. Lia G. Partakusuma, Sp.PK, MM, MARS (Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia-PERSI)

Adib Khumaidi saat sesi diskusi yang berlangsung secara virtual ini menyampaikan konsep yang dibuat AMSI sejalan dengan yang akan didorong IDI yaitu penguatan civil society untuk menjaga anggota komunitas dari risiko paparan, sakit dan mengurangi tingkat keparahan dan meninggal. “Dari IDI kami siap mendukung agar pekerja media tetap sehat melalui telemedicine atau konsultasi. Karena virus ini akan terus bermutasi, yang bisa diintervensi adalah lingkungan dan orang-orangnya, dengan membuat aturan (standar operasional prosedure/ SOP) untuk mengurangi risiko paparan,” ujarnya. 

Sani Budiantini Hermawan menambahkan menjaga kesehatan mental pekerja media perlu sebagai upaya pencegahan atau terapi untuk pasien COVID-19. “Jika tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan rasa tidak sanggup menghadapi kondisi ini,” ujarnya. Ia menambahkan menjaga kesehatan mental dapat dilakukan oleh profesional atau orang-orang di lingkungannya dengan teknik yang baik. 

Sementara Widjanarko Brotosaputro mengingatkan konsumsi obat-obat perlu dilakukan dengan hati-hati sesuai dengan petunjuk dokter dan kondisi pasien. “Termasuk mengkonsumsi vitamin tidak boleh berlebihan, perlu konsultasi dengan dokter atau apoteker. Jangan sampai karena takut COVID-1 kemudian mengkonsumsi obat-obat atau vitamin tanpa memperhatikan peruntukannya atau minum di luar takaran dosis. Apalagi jika mengkonsumsi antibiotik atau antivirus perlu hati-hati,” ujarnya. 

Sedangkan Lia G. Partakusuma menyampaikan kehadiran komunitas dalam penanganan COVID-19 sangat diperlukan. “Karena kita tidak bisa sendirian,” ujarnya. Saat ini dari 3084 rumah sakit, 989 rumah sakit ditunjuk menjadi rumah sakit rujukan COVID-19. Saat ini penambahan tempat tidur dari bulan Mei hingga 25 Juli telah naik tiga kali lipat menjadi 127.045 tempat tidur. “Tapi penambahan fasilitas (ruang isolasi khusus pasien COVID-19), tidak bisa naik cepat sejumlah tempat tidur,” ujarnya.

Ia mengatakan jumlah keterisian tempat tidur mulai naik di berbagai tempat.  Karena pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi berat dan kritis. “Karena itu penting bantuan dari komunitas untuk menekan melalui edukasi 3M  untuk memutuskan rantai penularan. AMSI Crisis Center COVID-19 sangat penting, jika diperlukan membentuk command center,” katanya. 

AMSI Crisis Center COVID-19 dipimpin Koordinator Utama yaitu Upi Asmaradhana (CEO KGI Network), dengan melibatkan pengurus AMSI pusat dan daerah, serta para ahli di bidangnya masing-masing seperti: dokter, psikolog, agamawan dll. Kalangan dokter yang telah menyatakan kesediaannya yaitu: dr. Tonang Dwi Ardyanto, SpPK, PhD (Direktur RS Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta), dr. Khoirul Hadi, SpKK (Dokter spesialis di Solo dan sekaligus penyintas COVID-19), dr. Adib Khumaidi, SpOT. (Ketua Terpilih PB IDI & Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia), dr. Mahesa Paranadipa Maikel, MH (Ketua Pelaksana Harian Tim Mitigasi IDI & Ketua Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia), dr. Ulul Albab, SpOG. (Sekjen POGI JAYA).

Kalangan psikolog yang menyatakan mendukung tim ini adalah Susatyo Yuwono, S.Psi., M.Si. (Ketua HIMPSI Solo), Tim Psikolog Sadari.id, Elok Farida Husnawati, S.Psi. (HRD PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT). Sedangkan dari kelompok swasta yang bersedia memberikan dukungan adalah Pyridam Farma, dan jaringan Siloam Hospitals Group. “Saat ini Tim Crisis Center terus menjajaki kerja sama dengan pihak-pihak lainnya,” kata Upi Asmaradhana, Koordinator Utama AMSI Crisis Center COVID-19. *** 

Link Youtube Peluncuran AMSI Crisis Center AMSI-19: https://www.youtube.com/watch?v=ubQXM2OkWV0 

Narahubung:

Upi Asmaradhana, Koordinator Utama AMSI Crisis Center COVID-19 (+62 811-460-791)

Gaib Maruto, Ketua Tim A Pendataan dan Edukasi (+62 857-1526-1947)

Machroni Kusuma, Ketua Tim B Logistik (+62 877-0860-0066)

Rikando Somba, Ketua Tim C Advance Lapangan (+62 811-1043-079)

Hesthi Murthi, Program Manager AMSI (+62 812-9397-4993)

Kabarikn.id , Malang- Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

5 orang mahasiswa diketuai oleh Dita Prasasya,di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau Kabupaten Malang selama 30 hari.

Kepala Desa Supriadi mengatakan Kegiatan ini membagikan masker, handsanitizer, vitamin dan sembako serta penyemprotan disinfektan ke kantor desa, sekolah, masjid, rumah warga dan jalan raya sekitar Desa Petungsewu.

Selama pandemi sekarang PMM  dari pengabdian masyarakat oleh mahasiswa.

Kegiatan membagikan masker, handsanitizer, vitamin dan penyemprotan disinfektan dimulai dari tanggal 19-22 Juni 2021,"jelasnya.(*)