
Kadisdikbud Balikpapan Ir Muhaimin MT
Catatan ringan HARDIKNAS 2020
KabarIkn.Com.Balikpapan-Point penting Hardiknas tahun 2020 adalah "BELAJAR DARI COVID-19"...ungkapan beliau sekarang menjadi kenyataan. Hampir 2 bulan ini proses belajar mengajar tidak bisa dilaksanakan di sekolah karena wabah covid-19 yang melanda Indonesia bahkan dunia, siswa akhirnya hanya bisa belajar di rumah secara daring/online. Tugas guru yang biasanya melakukan interaksi dengan tatap muka sekarang digantikan oleh para orang tua yang tiba-tiba HARUS menjadi guru bagi putra/putrinya.
Suasana belajar yang biasanya ramai karena guru terlambat masuk kelas, diselingi canda tawa karena kadang-kadang ada siswa yang saling menggoda/mengolok teman, ada waktu istirahat yg biasanya digunakan oleh siswa/siswi saling diskusi dan berinteraksi sosial, bahkan ada kecemasan dan ketakutan karena tidak bisa mengerjakan mid semester atau terlambat sampai sekolah...TIBA-TIBA BERUBAH.
Sekarang siswa hanya di rumah, para guru juga di rumah. Tugas yang diberikan/perintah hanya bisa dilakukan melalui media komunikasi secara daring/online. Rumah yamg biasanya hanya dijadikan tempat kumpul keluarga dan berinteraksi sekarang MENJADI KELAS/SEKOLAH. Para orang tua yang biasanya menyerahkan pendidikan putra/putrinya kepada guru sekarang harus berperan ganda BEKERJA dan menjadi GURU bagi putra putrinya.
Sebagai kepala Dinas terkadang saya harus menerima laporan keluhan dari para orangtua, mereka mengatakan bahwa tugas yang diberikan kepada putra/putri terlalu berat dan sangat merepotkan. Para orang tua menjadi kurang sabar dan kadang lebih emosional (TIDAK SEMUA) ketika harus menemani putra/putrinya mengerjakan tugas/PR dari para guru maupun proses pembelajaran dari media TVRI.
Saya juga orang tua dengan 3 putra/putri saya yang masih bersekolah, setiap saat bersama isteri saya juga mendampingi putri saya mengerjakan tugas-tugas dari para guru. Dalam kondisi seperti ini saya harus bisa menempatkan pada posisi yang netral yaitu menjadi mediasi keluhan para orang tua, dan juga menjadi orang tua yang mendampingi putrinya mengerjakan tugas.
Saya mhn maaf kepada para orang tua, disini harus saya katakan dengan JUJUR BAHWA TUGAS YANG DIBERIKAN TIDAK SELURUHNYA MEMBERATKAN PUTRA/PUTRI KITA, karena di hari biasa bila tidak ada Covid-19 bahkan tugas tugas di sekolah jauj lebih berat karena tuntutan kurukulum yang harus tuntas. Bahkan dulu orang tua hanya berguman dalam hati manakala melihat putra/putrinya membawa tas dengan buku yang banyak, tapi saat itu bapak/ibu TIDAK ADA YANG PROTES.
Trus dimana letak masalahnya??? Mohon maaf terpaksa harus saya sampaikan sekali lagi kepada bapak/ibu KITA SEBAGAI ORANG TUA KURANG SABAR DAN IKHLAS....
Coba kita renungkan bersama, baru dua bulan saja kita mendampingi putra/putri kita, tiba tiba kita menjadi orang yang tidak sabar, sering marah, dan sering menyalahkan. Kita lupa bahwa yang kita dampingi adalah anak kandung kita sendiri...bagaimana dengan para guru kita??? Mereka mendidik putra/putri bapak/ibu selama 6 tahun, 9 tahun, bahkan 12 tahun tetapi mereka iklhas, walaupun yang dididik buka anak kandungnya.
Mengapa? karena pada saat seorang sdh meniatkan diri menjadi guru, maka dia sadar bahwa tugasnya bukan hanya mengajar tetapi juga MENDIDIK PUTRA PUTRI KITA. Ada panggilan jiwa menjadi guru...ada keihklasan hati menjadi guru...Kebanggaan seorang guru hanya satu bagaimana melihat para murudnya bisa berhasil dan MENJADI ORANG, walau seumur hidup mereka hanya akan tetap menjadi guru.
Coba bpk/ibu tanyakan kepada putra/putrinya di rumah, lebih senang mana belajar di sekolah dengan didampingi guru, atau belajar di rumah dengan didampingi para orang tua???
Saya juga harus mengucapkan terima kasih ada para orang tua dan para peserta didik yang mengirim video, WA, atau youtube menyampaikan rasa kangennya kepada guru, kepada teman-teman dan kepada suasana sekolah....ketahuilah wahai para orang tua sesungguhnya para guru kita juga batinnya menangis karena kangen, dan sayang dengan putra putri kita...mereka lebih senang mengajar di sekolah dan bertemu dengan anak anak kita.
Dulu para buyut, kakek, nenek dan orang tua kita mempercayakan penuh pendidikan kita kepada sekolah, mereka tidak protes bila kita dihukum atau dimarahi bahkan dijewer kuping kita, dicubit manakala kita tidak patuh. Orang tua kita mengajarkan agar kita tidak cengeng, tahan uji dan siap menghadapi tantangan...dan hasilnya dapat kita lihat, saya dan bapak ibu sekalian menjadi orang kuat dan sukses. lantas knp sekarang kita tidak mempercayakan putra putri kita kepada guru...?
Saya bersyukur selama 5 tahun ini menjadi keluarga besar para pendidik yang hebat di balikpapan, saya tahu betul dengan segala keterbatasannya para guru "malu untuk mengeluh, banyak dari mereka yang jauh dari sejahtera, bahkan mereka belum tau bagaumana nasibnya bila purna tugas nanti, mereka juga punya keluarga yang harus ditanggung...sama seperti kita...
Tapi mereka ikhlas, karena pada saat mereka mengajar putra putri ada olah rasa, ada keterikatan yang tidak bisa dilukiskan...
Semoga kelak bila ibu/bapak para orang tua mendengar atau menemukan kesalahan yang dilakukan oleh guru karena ketidaksengajaan, tolong lakukanlah TABALBAYUN...klarifikasi, jangan melabrak ke sekolah, apalagi di depan para siswanya, jangan melaporkan ke polisi...
akan hancur hatinya....dan kita juga tidak ingin MARWAH GURU dilecehkan...pada dasarnya
GURU JUGA MANUSIA...ada keterbatasan, ada salah, ada khilaf...tapi yakinlah para bapak/ibu bahwa GURU ADALAH PAHLAWAN TANPA TANDA JASA....
Semoga menjadi bahan renungan kita bersama untuk saling introspeksi.
Balikpapan, 2 Mei 2020
9 Ramadhan 1441 H
(MUHAIMIN-KADISDIKBUD)