
Oleh : Danang Agung ( Wakil Ketua Kahmi Balikpapan)
KabarIkn.Com,Balikpapan - Tahun ajaran baru telah mulai pertengahan Juli lalu. Setelah pendaftaran siswa online berbasis zonasi yang menyita tenaga dan perhatian semua banyak pihak. Permasalahan dunia Pendidikan kita belum juga usai, ditengah pandemi yang entah kapan berakhir ini. Setelah dipusingkan dengan riuhnya memasukan anak-anak kita bersekolah, ternyata sistem edukasi pembelajaran daring, jarak jauh atau tanpa tatap muka menjadi permasalahan baru yang harus dicarikan solusinya.
Tidak bisa dipungkiri, pendidikan memegang peranan penting bagi perkembangan anak. Sayangnya, masa pandemi Covid-19 menjadi masa-masa sulit yang cukup menantang bagi sistem pendidikan. Merebaknya virus corona dengan angka yang cepat dan sangat mengkhawatirkan, membuat pemerintah menerapkan berbagai kebijakan yang dianggap mampu meredam penyebaran virus ini. Salah satunya adalah penerapan physical distancing atau menjaga jarak dengan orang lain untuk memutus mata rantai penyebaran virus.
Kebijakan belajar jarak jauh diambi tegas oleh pemerintah. Apalagi korban Covid-19 semakin bertambah. Banyak keluhan mahalnya biaya kuota internet oleh sebagian para orang tua makin menambah beban hidup yang kian susah. Bahkan ada orang tua yang untuk keperluan sehari hari saja sudah kesulitan, apalagi ditambah tuntutan untuk membeli laptop,Hand Phone (HP) , dan kuota internet bagi proses pembelajaran untuk anaknya.
Pemerintah berupaya mencarikan solusi agar proses pembelajaran daring dapat berjalan dengan baik, tidak terlalu memberatkan para orang tua dan peserta didik. Langkah ini sedang dinanti-nanti oleh orang tua yang memang sedang membutuhkan dukungan tersebut. Pemerintah harus bergerak cepat, jangan sampai kalah dengan pandemic yang kian merebak.
Karena Pandemi ini , banyak orang tua mungkin yang harus kehilangan mata pencarian. Ditengah ekonomi lesu, ditambah proses edukasi yang biasanya berlangsung di sekolah kini beralih kerumah. Padahal orang tua dirumahpun saat ini sedang dipusingkan mencari penghasilan baru, makin ditambah tekanan dengan mendukung pembelajaran bagi anaknya.
Banyak orang tua yang semakin bertambah tekanan kehidupannya. Sehingga tak heran luapan emosi dituangkan didunia maya sebagai ungkapan ekspresi depresi atas perubahan sistem edukasi yang terjadi. Semoga saja tekanan ini tidak menjadi daya rusak mental dan moral bagi masyarakat. Mengambil langkah atau cara-cara melangar hukum guna memperoleh sarana belajar bagi anaknya agar dapat mengakses edukasi jarak jauh ini.
Pandemi yang telah memakan banyaka korban, termasuk menyasar dikalangan dunia pendidikan. Hal ini harus kita sadari bersama, langkah pemerintah mengambil kebijakan pembelajaran jauh adalah pilihan terbaik yang harus dilakukan. Memang tidak nyaman bagi beberapa pihak, namun akan lebih baik dari pada makin bertambahnya korban yang tak diinginkan.
Masa-masa Covid-19 bukan berarti pelajar harus berhenti belajar. Mereka harus tetap melanjutkan studi dengan dukungan penuh dari sekolah dan orang tua. Masa pandemi ini bisa dimaknai dengan semakin besarnya kesempatan orang tua untuk terlibat dalam proses pendidikan anak. Justru, masa ini mengingkatkan kembali, bahwa orang tua adalah menjadi guru pertama yang dimiliki sang anak.
Pandemi telah meluluh lantakan hubungan sosial, menggoyahkan beberapa aspek perekonomian. Bahkan saat ini juga telah mengganggu proses edukasi buat anak negeri. Semua pihak tak boleh tinggal diam, empati kita tak boleh tergerus dengan pandemi yang belum berhenti. Namun harus penulis akui, Pandemi dan sistem edukasi ini telah membangkitkan hipertensi yang semua pihak berharap dapat melalui. Nah, hipertensi itu kini telah penulis rasakan, karenanya, tulisan ini saya cukupkan.