[Valid RSS]

Lebaran, Covid-19 dan Kahitna

Penulis : Danang Agung (Penyitas Covid-19) 

KabarIkn.com - Dua kali sudah perayaan Hari Raya Idul Fitri dirayakan umat Islam di tengah pandemi Covid-19. Momen Idul Fitri atau Lebaran biasanya dimanfaatkan untuk saling memaafkan dan berkumpul dengan keluarga. Akan tetapi, di tengah pandemi virus corona yang masih melanda dunia, memaksa semua orang untuk tetap di rumah, meminimalisir pertemuan dan mobilitas, sehingga tak bisa merayakan Lebaran seperti dalam kondisi normal. Berjabat tangan , berkumpul dalam keceriaan hari kemenangan.

Bagi rekan-rekan yang lebaran kali ini baru saja terpapar Virus Covid-19 atau sedang menjalani isolasi untuk penyembuhan, dipastikan akan menambah kesedihan tersendiri.  Terputus hubungan sosial dengan dengan sekitar, untuk beberapa hari hingga lebaran berlalu.

Menjalani isolasi selama 14 hari masa penyembuhan Covid-19, mungkin setiap orang memiliki cerita tersendiri. Apa lagi bagi mereka menjelang atau disaat Lebaran baru dinyatakan positif, sehingga selama Lebaran harus menjauh dulu dari sanak saudara. Walaupun kita merasa sehat lantaran tanpa gejala. Menahan gejolak rasa untuk berkumpul dalam lingkaran kecil keluarga pun harus mampu kita lakukan. Agara kerabat lainnya tidak menjadi korban berikutnya, apalagi ada lansia ataupun saudara yang memiliki penyakit penyerta.

Sebagai penyitas, saya dapat merasakan bagaimana rekan-rekan yang saat ini masih berjuang melawan virus ini dan mengakhiri masa isolasi. Tidak panik , tetap ceria dan bahagia menjalani masa-masa isolasi adalah saah satu cara terbaik melakoninya.

Ketika Jumat, 12 Maret 2021 saya di nyatakan positif Covid-19 sesuai hasil pemeriksaan Swab Anti Gen. Saya langsung cepat ambil tindakan isolasi mandiri dirumah. Menjauhkan diri sementara dari keluarga, sambil menunggu pemeriksaan lanjutan buat mereka. Ketika seluruh keluarga, anak-istri alhamdulillah dinyatakan Positif semua, langkah Isolasi mandiri dirumah 14 hari kami lakukan. 

Gejala virus ini tiap orang ternyata berbeda-beda. Selama menjalani isolasi dirumah, seluruh anak masih mampu bermain ceria tak nampak seperti orang sakit. Tawa dan tangis mereka menambah imun tersendiri buat saya. Walaupun dari mereka selalu dilanda kebosanan lantaran tidak bisa beraktifitas keluar rumah seperti biasa. Memberi pemahaman secara bijak, tiada henti saya sampaikan. Sehingga belajar daring dan bermain dirumah selama isolasi mereka jalani.

Jika anak-anak tidak merasakan gejala, hari 1 - 3 buat saya merupakan siksaan tersendiri. Panas, meriang dan berdahak adalah rasa yang hilang berganti. Panas dan meriang yang begitu hebatnya dan belum pernah saya rasakan, sehingga membuat saya sulit tidur. Walau terus berusaha memejamkan mata tapi tak mau terlelap. 

Teknologi akhirnya yang mampu memberikan  penawar tersendiri disaat-saat dramatis seperti ini. Saya seakan sangat hafal sekali waktu – waktu kekejaman virus ini hadir, yakni dimana saya akan beristrirahat malam. Sehingga ketika  tubuh ini melawan virus yang hadir dengan rasa panas, meriang dan seringnya berdahak. Menonton dan mendengarkan musik melalui Youtube merupakan sandaran terapi buat saya. 

Entah mengapa pilihan saya jatuh pada kelompok band Kahitna. Hampir setiap malam, menembus waktu pukul 24.00 saya memutar lagu Kahitna sebagai terapi menenangkan tubuh saya. Antara tertidur dan terjaga, kompilisai lagu Kahitna mampu membius memberikan kenyamanan relaksasi tersendiri.

Tak terasa 14 hari isolasi itu berlalu. Obat yang saya harus minum habis di 5 hari pertama. Siksaan panas, meriang dan berdahak masih tetap ada, walau mulai menurun. Tapi saya masih tetap mencicipi terapi tembang – tembang Kahitna hingga akhir isolasi, sebagai obat lainnya. Yakni ketenangan .

Ini cerita sekaligus tips yang mungkin bisa dilakukan, buat rekan-rekan yang saat ini masih berada di masa Isolasi. Benar, Covid-19 memang belum atau tidak ada obatnya. Kita hanya butuh tidak panik, bahagia dan ketenangan. Salah satunya, itu saya dapatan dari tembang-tembang Kahitna.