[Valid RSS]

Mencapai Asa 1 Juta Barel Perhari

KabarIkn.com,Balikpapan - Lonjakan pertumbuhan populasi di Indonesia kedepan akan menimbulkan beragam permasalahan nasional. Salah satunya konsumsi energi a diprediksi melonjak dan melebihi rata-rata secara global. Pada 2030, konsumsi energi di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 2,3 juta barel minyak per hari (bopd). Peningkatan konsumsi energi nasional didorong oleh pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi nasional, dan peningkatan daya beli masyarakat. Ditambah lagi, pada 2020, Bank Dunia telah menetapkan Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah atas (middle upper income). 

Guna menghadapi kondisi tersebut, pemerintah Indonesia tak tinggal diam. Lewat Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), pemerintah telah menetapkan target produksi minyak 1 juta bopd pada 2030 mendatang. 

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menyadari banyak tantangan untuk merealisasikan target ambisius tersebut. Mulai dari investasi besar, regulasi tumpang tindih, stagnasi lifting migas sepanjang satu dekade terakhir, hingga pandemi Covid-19 yang memengaruhi produksi migas dan harga minyak dunia.

Ia pun mengajak jajaran lembaganya untuk bertransformasi agar mampu mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Dwi lantas membangun istilah “musuh bersama”, yaitu visi jangka panjang SKK Migas mencapai target 1 juta bopd, agar lembaga yang dipimpinnya semakin terpacu untuk mewujudkannya. 

“Semua orang harus sudah fokus untuk merealisasikannya. Harus ada detail program dan strateginya apa saja,” katanya seperti dikutip dari buletin bulanan Bumi, Juli 2020. 

Namun hal itu belumlah cukup, SKK Migas juga mengharapkan dukungan dan sinergi dari pemangku kepentingan atau stakeholder, terutama terkait konsistensi kebijakan pemerintah pusat maupun daerah. Visi SKK Migas ini harapnya menjadi visi nasional yang dapat didukung oleh seluruh pihak, sehingga mimpi produksi 1 juta barel minyak di tahun 2030 dapat tercapai. 

Visi jangka panjang SKK Migas untuk memproduksi minyak 1 juta bopd pada 2030 memang terkesan ambisius. Namun, SKK Migas punya keyakinan mampu mencapai target tersebut. Pasalnya, dalam perhitungan SKK Migas, Indonesia memiliki potensi cadangan minyak sebesar 783 billions of barrels of oil equivalent (Bboe). 

Selain itu, Indonesia juga mempunyai 128 cekungan yang menyimpan kandungan minyak. Dari total cekungan tersebut, sekitar 50 cekungan telah digarap dan 20 di antaranya mampu menghasilkan produksi migas. Pada 2020, Indonesia mendapatkan skor indeks kemudahan berbisnis sebesar 69,6. Jumlah ini meningkat dari raihan 2019 yang sebesar 68,2. Hal tersebut dapat menjadi daya tawar untuk menarik para investor agar mau membenamkan modal di sektor hulu migas. Berdasarkan peluang-peluang yang ada, SKK Migas pun telah menyiapkan sederet strategi demi memuluskan jalan ke pencapaian target 1 juta bpod pada 2030. 

Selanjutnya untuk menjamin pencapaian target produksi sesuai yang telah direncanakan yaitu produksi minyak sebesar 1 (satu) juta BOPD dan gas sebesar 12.000 MMSCFD dapat dicapai pada tahun 2030, SKK Migas menetapkan 4 (empat) strategi pencapaian yaitu:

1) Mempertahankan tingkat produksi existing yang tinggi

2) Transformasi sumberdaya ke produksi

3) Mempercepat Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR)

4) Melakukan eksplorasi untuk penemuan besar

Guna mendukung visi memproduksi minyak 1 juta bopd pada 2030 , sejauh ini perkembangan Migas di wilayah Kalimantan dan Sulawesi terus bergeliat. Ditengah Pandemi Covid-19 dan turunnya harga minyak memang tak dipungkiri ini telah memukul strategi rencana ekplorasi dan eksploitasi sumur-sumur migas.

Namun diakui Kepala SKK Migas Kalsul, Syaudin, capaian lifting di Kalsul masih sangat baik yaitu lifting Minyak Mentah+Kondensat (MMK) sebesar 104,8% dan lifting/salur gas sebesar 106,4%.Kontribusi lifting di Kalsul terhadap lifting Nasional juga masih cukup besar yaitu untuk lifting MMK berkontribusi sebesar 12%, sedangkan lifting /salur gas berkontribusi sebesar 31%.

Lanjut Syaifudin usaha mencapai target yang ditetapkan membutuhkan kerjasama dan dukungan dari seluruh stakeholders mengingat banyak kegiatan yang harus dilakukan bukan berada pada ranah kewenangan SKK Migas. 

“Kerjasama yang dibutuhkan antara lain untuk menambah Wilayah Kerja migas baru dan menciptakan iklim investasi hulu migas yang lebih kondusif sehingga mampu menarik minat investor untuk menjadikan Indonesia negara tujuan investasi atau mendorong minat investor untuk merealisasikan kegiatannya”tandas Syaifudin.

Mencermati hal tersebut, kiranya capaian 1 juta barel tahun 2030 bukan isapan jempol untuk diraih SKK Migas bersama mitra-mitranya yakni KKKS. Tentunya asa target ini perlu dukungan semua pihak, baik pemerintah melalui regulasinya dan masyarakat luas dengan pemahaman yang tepat, bahwa hulu migas adalah kegiatan pemerintah Indonesia.(ikn-01)